Resume Sedjarah Sosiologi Ekonomi Indonesia

ABAD 17
Bangsa Belanda tiba di wilayah Nusantara kira-kira satu abad setelah kedatangan Bangsa Portugis. Bangsa Belanda dulunya mengambil rempah-rempah dari Portugis, akan tetapi setelah Portugis dikuasai Spanyol dan Belanda terlibat perang dengan Spanyol maka Belanda harus mencari sumber dari rempah-rempah tersebut. Dengan mempelajari dari perjalanan Portugis, Belanda sampai menuju ke Banten pada tahun 1589. Daerah Jawa saat itu hanya semacam menjadi transit antara daerah barat (Malaka, Sumatera) dengan daerah timur (Maluku, Nusa Tenggara). Perdagangan di Jawa ini diikuti oleh banyak pelaku. Disini setidaknya ada dua golongan pedagang yang ada di pasar, pertama golongan pedagang pemberi saudagar-kelontong dan yang kedua ialah para pemberi kredit.

Tahun 1601 perdagangan di Tuban dikuasai oleh sekelompok golongan bangsawan. Hal ini juga berlaku di daerah Indonesia Timur, dimana pedagang bangsawan menjalan peran yang sangat penting dalam dunia perdagangan. Seperti hal nya daerah Asia lainnya (pada saat itu), di Indonesia golongan bangsawan mempunyai pengaruh yang besar dalam hal perdagangan.

Bangsa Belanda datang dengan niat berdagang, berbeda dengan Portugis yang setengah hati untuk menyebarkan agama kristen. Tahun 1602 dibentuklah kongsi dagang, VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie), yaitu gabungan para kongsi-kongsi yang berlajar ke Indonesia. Kongsi ini dianggap menjadi hal yang harus dilakukan sebagai bentuk untuk menentang atau bersiap menghadapi kekuasaan bersama Spanyol-Portugal. Dalam bentuk waspada perang diperlukan suatu pimpinan untuk mengambil kekuasaan, maka tahun 1609 diangkat seorang Gubernur Jenderal yang berkuasa mengurusi kepentingan VOC di Asia. Tahun 1619 Jayakarta ditaklukan dan Jan Pieterzoen Coen, Gubernur Jenderal saat itu, mendirikan Batavia. Batavia yang semula menjadi tempat berkumpulnya kapal berubah menjadi sebuah kota yang sangat penting.

Ketika Belanda memasuki daerah perdagangan rempah-rempah di Ambon, peta persaingan rempah-rempah semakin keras. Hal ini tak lepas dari sudah adanya Portugis di daerah perdagangan tersebut. Seperti halnya Portugis,ketika tahun 1500 yang disambut Sultan Ternate untuk bersekutu sebagai bentuk perlawanan terhadap Tidore, ketika satu abad kemudia Belanda datang mereka disambut baik untuk menjadi teman mengahadapi Portugis. Tahun 1605 orang-orang Belanda menaklukan Ambon dan Tidore dari orang-orang Portugis. Atas pertolongan tersebut, tahun 1607 Belanda mendapat izin untuk monopoli perdagangan rempah-rempah.

Pada tahap pertama hubungan Belanda dengan penduduk Maluku sangat baik. Tetapi setelah tahun 1609 di Banda timbul perang dengan Belanda, yang mengakibatkan produksi rempah-rempah berkurang karena banyak penduduk yang menjadi korban perang. Monopoli cengkih di Ambon juga menghadapi kesulitan, hal ini terjadi karena kelebihan produksi sehingga aturan monopoli pun sulit terjadi. VOC beranggapan setiap perdagangan yang terjadi diluar dari monopoli adalah bentuk dari perdagangan gelap.

Abad ke-17 ketika Sultan Ternate dan Tidore tidak mau lagi menerima uang-tahunan dari VIC dan menolak monopoli rempah-rempah dari VOC. Sehingga sejak itu penanaman rempah-rempah seperti tanam paksa, dimana luas tanaman tersebut diluas dan diperkecil sesuai kebutuhan harga pasar. Hingga akhirnya VOC mengadakan “hongitochten” atau Pelayaran Hongi yang bertujuan untuk memonopoli rempah-rempah. Setidaknya rempah-rempah di Indonesia Timur sama berharganya dengan lada dan cengkih dari Indonesia Barat.

Tahun 1600 pelayaran orang-orang Jawa menjadi sangat lemah beserta kekuasaannya telah berakhir. Selain itu keadaan peperangan ini juga membuat keadaan tambah mengenaskan, penaklukan dan penghancuran Pantai Utara Jawa membuat banyak saudagar-saudagar besar berpindah ke Makassar atau Banjarmasin. Tahun 1625, raja Makassar memiliki hak utama membeli barang-barang yang masuk ke Makassar. Sehingga orang Makassar banyak turut serta dalam perdagangan. Hal ini menjadi dasar ekspansi kekuasaan Makassar tahun 1600-1675. Jalan laut pun berubah, jika dahulu kapal-kapal itu menuju Jawa Timur setelah dari Selat Malaka atau sebaliknya. Tetapi semenjak 1625 jalur ini berubah dari Selat Malaka menuju Makassar atau sebaliknya.

Sejak dahulu perdagangan orang Jawa di laut memiliki dua bentuk, yakni mengangkut rempah-rempah dari Maluku ke tempat-tempat lain melalui Pulau Jawa dan ekspor bahan makanan semisal beras yang berasal dari Jawa. Akan tetapi dalam waktu selanjutnya menjadi berubah. Hal pertama yakni sebagai pengangkut rempah-rempah menjadi tidak berjalan lagi setelah pada abad ke-17 tidak lagi melalui Pulau Jawa, sedangkan ekspor pun menjadi hilang.

Dalam percaturan politik abad 17, Bangsa Belanda dapat dikatakan menang. Meski begitu patut digarisbawahi bahwa politik memecah belah bukan hanya dilakukan bangsa Eropa juga bangsa pribumi. Artinya secara tidak langsung bangsa Indonesia juga menarik keuntungan dari perseteruan antara Belanda, Spanyol, Portugis dan Inggris. Jadi bukan hanya bangsa Belanda yang mendapat keuntungan antara perseteruan kelompok lokal, juga kelompok lokal atas perseteruan bangsa Eropa. Akan tetapi meski begitu, VOC hanya akan memberi bantuan militernya ketika dirasa itu mampu memberikan untung yang signifikan terhadap dia. Jadi kekuasaan militerlah¬ yang menjadi faktor penting dalam kekusutan perdagangan dan ekonomi.

Sekalipun demikian dalam satu hal orang-orang Eropa telah melakukan fungsi demi kepentingan bangsa-bangsa Asia yakni menciptakan perdamaian dalam bentuk daerah yang bernama Pax Neerlandica atau Pax Brittanica.

ABAD 18
VOC sebagai pengganti Portugis mendapatkan hak-hak istimewa dari penguasa lokal dalam perdagangan. Misalkan ialah keuntungan dari beli utama, keuntungan monopoli atau keuntungan dari penyerahan wajib. Abad ke 18 ditandai dengan terus berdirinya kekuasaan Kompeni di laut.

Tahun 1743 Mataram mengadakan perjanjian dengan Kompeni dimana Kompeni mendapat hak-hak untuk mengangkat pegawai-pegawai pemerintahan (rijkbestuurder) dan bupati-bupati (hoofdregenten). Disamping itu Mataram menyerahkan daerah pantai utara Jawa, yakni Semarang, Rembang, Jepara, Surabaya, ujung timur Jawa, dan juga sisa Madura.

Seperti semacam basic knowledge, bahwa ketika masih berbentuk kerajaan lama, masyarakat Jawa terdiri dari tiga lapisan. Lapisan pertama ialah masyarakat desa yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, lapisan bangsawan atau raja, dan lapisan para pedagang serta pelajaran laut. Karena perniagaan dan transito di Pulau Jawa hancur, Jawa kehilangan ketiga tradisi tersebut dan pengalaman pelayaran.
Setelah tahun 1750, berakhirlah kekuasaan Kompeni. Akan tetapi Kompeni baru ditutup ketika Deandels datang tahun 1808.

PERUBAHAN SOSIOLOGIS MASYARAKAT JAWA
Sejak tahun 1650 hingga abad 19 Jawa mengalami feodalisasi. Hal ini bukan berarti struktur feodal baru muncul, akan tetapi lebih ditengarai karena Jawa kehilangan perdagangan lautnya sehingga struktur masyarakat berubah menjadi lebih condong ke feodal, dan memperkuat pola feodal yang sebelumnya telah ada. Di Eropa struktur feodal berhubungan dengan sistem pinjam tanah (leensteel), semacam hubungan antara pemilik lahan yang memerintah dengan kaum tani atau yang diperintah. Kebudayaan Jawa tahun 1800an adalah “kebudayaan pahlawan”, yang berarti bahwa cita-cita hidup masyarakat saat itu adalah cita-cita pahlawan ata cita-cita ksatria. Hal ini ditunjukan dalam lakon wayang.

Pada titik pusatnya terletak cita-cita pahlawan yang suci tanpa takut, tanpa cela, setia kepada raja, sederhana, tabah, teguh, dan dapat menguasai diri dengan sempurna. Alam pikiran ini mengikat kepada semua masyarakat, suasana feodal suasana desa.

Alam Jawa pada lahirnya banyak yang mirip dengan peradaban Eropa abad pertengahan seperti yang digambarkan Huizinga dalam bukunya “Herfsttij der Middeleeuwen”.

Twitter