Ciri-ciri Historiografi Tradisi, Serat Babad Pajajaran dan Perbandingannya

Babad, dalam Sudut Pandang Historiografi
Dalam tradisi kebudayaan Indonesia, kebudayaan tradisi sejarah selalu tercipta dan terus ada selama adanya kekuatan politik raja. Konsep dalam historiografi pun muncul ide bahwa tradisi sejarah tadi termasuk dalam kategori sumber-sumber sejarah. Bukan sebagai buku-buku sejarah(1) . Babad atau secara general sejenis hikayat, sajarah, maupun lontar termasuk dalam kategori tradisi sejarah. Atau para sejarawan seringkali mengkategorikannya sebagai historiografi tradisional (2). Mengambil konsep dari Bambang Purwanto kita menggunakan terminologi historiografi tradisi dan historiografi kritis, bukan lagi historiografi tradisional dan historiografi modern.

Meskipun dalam sudut pandang beberapa sejarawan asing, babad seringkali dikategorikan hanya sebagai cerita kerajaan, tempat melegitimasikan kekuasan(3). Bahkan A. Teeuw seorang ahli linguistik memberi perbedaan lain dalam pengkategorian babad ini. Teeuw mengkategorikan babad sebagai sebuah genre, aliran, dalam sastra Indonesia(4).

Berbagai pengkategorian terhadap babad memang tergantung pola pikir sejarawan itu pula. Namun konsep yang ditawarkan dalam babad itulah yang ada dalam tulisan ini.

Ciri-ciri Umum Historiografi Tradisi dan Korelasi dengan Babad
Adalah beberapa pembagian mengenai ciri-ciri historiografi tradisi dengan babad itu sendiri. Konsep babad bisa diartikan dengan historiografi itu sendiri, namun tidak semua historiografi tradisi adalah babad. Dalam Serat babad Pajajaran terdapat ciri-ciri yang mirip dengan ciri-ciri umum pada babad lainnya. Semisal legitimasi kekuasaan atau raja. Dalam beberapa pengertian, misal dalam tulisan Hoesein Djajadiningrat beliau mengatakan,
"Tradisi lokal biasanya berisi pengagungan terhadap para raja atau seorang raja tertentu; dapat juga memuat kisah tentang asal usul suatu kerajaan" (5)

Konsep tradisi lokal yang disajikan oleh Hoesein Djajadiningrat sepertinya termuat pula dalam Serat babad Pajajaran. Dalam babad ini, misal dalam bagian terakhir. Dalam bagian terakhir babad ini, bercerita bahwa setelah Sultan Pajang berdoa dan meminta pertolongan dari Tuhan agar diberi kekuatan dan jalan keluar untuk menguasai Pulau Jawa, berangkatlah dia menemui Sultan Mataram untuk menyerahkan kekuasaan kepadanya. Alhasil, tanpa peperangan dan pertumpahan darah tampuk kekuasaan Mataram berpindah kepada Sultan Pajang.

Selain pada bagian terakhir, secara konsep cerita Serat Babad Pajajaran ini memang begitu melegitimasi, atau memberi kepercayaan akan terhadap raja di Kerajaan Pajang. Ceritanya bermula dari Kerajaan Pajajaran ke Kerajaan Majapahit sampai Kerajaan Pajang. Konsep yang begitu panjang pula karena secara tidak langsung memberi statement, pernyataan, bahwa Sultan Pajang adalah penerus dari para penguasa di Pulau Jawa.

Selain yang diutarakan oleh Hoesein Djajadiningrat tadi, konsep pelegitimasian kekuasaan adalah ciri salah satu babad juga pernah dikemukakan oleh Sartono Kartodirjo. "Dalam penulisan sejarah tradisional, seperti dalam Hikayat, Kronik, atau Babad, nyatalah sekali bahwa penulisan itu bertujuan membuat pembenaran dari kedudukan yang sedang berkuasa atau melegetimisasikan eksistensinya" (6).

Pengaruh pelegetimasi konsep raja atau pengagungan kekuasaan raja memang tercermin dalam kebudayaan Hindu –meskipun setelah keberadaan kerajaan hindu tidak ada lalu ditiru oleh kerajaan islam setelah dirubah agar tidak menyimpang dalam ajaran islam. Konsep raja sebagai penyambung antara mikrokosmos dan makrokosmos sehingga membuat pencitraan bahwa segala kehendak raja adalah perintah sepertinya memberi warna dalam kedudukan pujangga kraton. Setidaknya pujangga kraton memberi warna melalui kedudukannya di keraton bahwa mereka berhak dan harus melegetimasikan raja karena raja dan kedudukannya di kerajaan adalah kehendak dewa.

Namun konsep pelegitimasian raja ini menjadi pembawaan corak lain dalam babad, termasuk dalam Serat Babad Pajajaran ini. Pengaruh hindu yang menerapkan pengaruh kosmologis dalam diri raja, juga membawa cerita dalam alur Serat Babad Pajajaran. Dalam babad seringkali terkandung unsur-unsur hindu yang terbawa misal tokoh dalam cerita Mahabrata ataupun Ramayana. Begitupula dalam Serat Babad Pajajaran. Dalam lakon pada bagian ke 16. Dalam bagian ke-16, Dhandhanggula tersebut diceritakan bahwa Jaka Tarub mengintip bidadari yang sedang mandi. Dalam istilah islam dikatakan memang ada bidadari, namun dalam perwujudan cerita hal ini berkaitan erat dengan pengaruh hindu dalam kesusastraan saat itu (7).

Selain pengaruh hindu tadi, dalam babad seringkali ditemukan alur yang berkaitan yang sebenarnya tidak sinergis dan tidak cocok. Ini berkaitan bahwa dalam babad ada alur yang seolah-olah mencampur berbagai kepercayaan. Bagaimana mungkin seorang Sultan Pajang yang islam adalah keturunan dari berbagai “penguasa-penguasa” kafir. Bahkan akan muncul benang merah keterikatan antara kepercayaan itu tadi. Dalam Serat Babad Pajajaran, hal ini juga ditemukan.

Nabi Adam peputra Nabi Sis, Jeng Nabi Sis putra Hyang Nurcahya, Sang Hyang Nurcahya putrane, Nurasa asesunu, Sang Hyang Wenang nulya asesiwi, Sang Hyang Tunggal wastanya, peputra Hyang Guru, kang ngyasani swarga loka, Sang Hyang Guru peputra Brama sesiwi, wasta Bramasadhara(8).

Kutipan diatas adalah bagian pertama pada Serat Babad Pajajaran, pada ke 8. Terceritakan urutan keturunan dari Nabi Adam, Nabi Sis, berlanjut ke Hyang Nurcahya, Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal dan seterusnya. Cerita ini menjadi menarik jika kita urut bahwa cerita ini mengadaptasi islam yang diwakili oleh urutan Nabi Adam, Nabi Sis tadi dan kemudian berlanjut ke Hyang Nurcahya dan seterusnya. Sepemahaman bahwa sebelum adanya pengaruh agama, orang Sunda menyebut Tuhan dengan sebutan Hyang atau Sang Hyang. Hampir dalam setiap babad akan terpengaruh cerita seperti ini. Dalam penjelasan lebih lengkap, Hoesein mengkritisi bahwa dalam kenyataannya pengaruh hindu banyak melekat dalam babad dan itu melengkapi banyaknya keganjilan dalam urutan silsilah kerajaan itu sendiri.

Dalam Serat Babad Pajajaran seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya terlihat ada unsur islam-kafir-hindu-islam. Menjadi sebuah yang anakronis silsilah itu mengacu pada urutan silsilah yang diambil itu tadi. Bukan sekedar di Serat Babad Pajajaran saja, jika kita kaji dalam Babad Tanah Jawi, hal ini juga menjadi ciri yang dimiliki oleh Babad Tanah Jawi. Setidaknya dengan salah satu ciri silsilah yang bercampur dari berbagai kepercayaan membuktikan bahwa salah satu ciri yang pernah dikemukakan oleh Hoesein tentang pengaruh hindu dalam silsilah islam memang terdapat dalam Serat Babad Pajajaran sendiri (9).

Dalam sebuah tulisan De Graaf yang diambil dalam buku P. Swantoro, Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Jadi Satu, ada pendapatnya yang cukup menggelitik dan setidaknya itu bisa dijadikan sebagai salah satu ciri dalam babad, termasuk Serat Babad Pajajaran ini. Secara garis besar De Graaf mengemukakan bahwa babad adalah tradisi yang berasal dari Jawa Timur (Surabaya/Majapahit) dan dibawa menuju Jawa Tengah. Menjadi yang menarik karena dalam pendapat De Graaf ialah dalam proporsi tertentu, babad memasukan Sunan Ngampel atau Raden Rachmat sebagai tokoh sentral dimana setiap orang yang berkuasa baik secara politik atau agama pernah menjadi santrinya. Hal ini memang ditentang oleh beberapa sejarawan lain semisal Breg dan Hoesein Djajadiningrat. Breg lebih mengkategorikan bahwa tradisi yang dikembangkan dalam babad adalah “middle-Javanese” atau Jawa Tengahan (10). Dikategorikan secara kasar adalah ceritanya berada di Jawa Tengah melulu.

Yang menjadi kajiannya bukanlah tentang benar atau salah tentang pendapat mereka, namun benarkah dalam Serat Babad Pajajaran menggunakan konsep middle-Javanese” atau Jawa Tengahan? Asumsinya itu memang benar. Karena bagaimanapun untuk melegitimasikan sebuah kerajaan yang secara geopolitik di Jawa Tengah. Bahkan proporsi cerita Serat Babad Pajajaran itu sendiri dari 59 pada, sebanyak 40 pada berlatar belakang daerah Jawa Tengah (11).

Berlanjut ke ciri yang seringkali diungkap oleh beberapa sejarawan yakni masalah genealogi. Sebelum kita mengkaji masalah genealogi itu tadi, mesti kita ketahui dulu bahwa dalam kebudayaan Jawa, konsep timeline atau urutan kejadian seringkali tidak dicirikan melalui angka atau istilahnya kronogram. Kronogram secara harfiah kita artikan sebagai kombinasi dari kata-kata yang tersamar, atau melalui peristiwa untuk mengingatkan pendenar atau pembaca. Dalam sebuah tulisannya C.C. Berg mengemukakan bahwa kebiasaan orang Jawa menempatkan gambaran mengenai masa lampau yang teratur baik dan secara kronologis, meskipun tanpa bantuan abjad (12). Mungkin ini juga menjadi hipotesis yang cukup akurat untuk membahas pula kenapa dalam setiap babad seringkali terdapat genealogi, urutan rangkaian silsilah kekeluargaan. Baik itu fakta yang benar atau tidak, dalam kenyataannya babad menggunakan konsep kronogram tersebut untuk menjelaskan fakta sejarah yang terjadi. Semisal dalam Serat Babad Pajajaran yang kita kaji. Dalam bagian ke 7, hanya terungkap bahwa kekuasaan Majapahit dipegang oleh Brawijaya IV, V, VI, VII. Dan pada Brawijaya VII terjadi pernikahan dengan putri Cempa (13).

Jika konsep kronogram tadi kita kaitkan dengan unsur genealogi, hal ini bisa menjadi sebuah fakta sejarah yang cukup hard fact. Seperti kita ketahui pujangga Serat Babad Pajajaran tidak menuliskan siapa itu Brawijaya IV, V, VI, ataupun VII, namun jika kita kaitkan peristiwa raja Majapahit yang menikah dengan putri Cempa dalam urutan kekuasaan Kerajaan Majapahit kita dapat mengetahui peristiwa-peristiwa pergantian kekuasaan itu (14). Meski tanpa kita hanya mengetahui nama secara tersirat namun kita menjadi tahu siapa orang yang dituju tersebut. Atau kita bisa masukan bahwa genealogi adalah episode-episode kepemimpinan raja. Jadi meski tidak tersirat dengan angka secara rinci, namun melihat urutan genealogis dan lamanya memerintah bisa menjadi penjelas episode-episode setiap waktu.

Mistis dan babad memang sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dan itu adalah salah satu ciri babad yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Sartono Kartodirjo dalam pengantar di buku Anthony Reid, Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka, Indonesia dan Masa Lalunya. "Mitologisasi akan memperkuat proses legitimasi itu karena mitos-mitos menambah sifat supernatural dan sanksi-sanksi yang sakral. Kontinuitas kekeramatan terwujud, dengan perantaraan historiografi, pusaka-pusaka, dan pelbagai tradisi" (15).

Jika pada awal menjelaskan tentang konsep legitimasi kerajaan, maka bagian ini secara tidak langsung berkaitan ulang dengan konsep legitimasi raja itu sendiri. Perlu kita cermati dalam membahas suatu bangsa kita seingkali menerapkan istilah standar sosial yang semasa dan sejenis (synchronic and synctypical social standard). Jika pada kaman dulu pelegitimasian kekuasaan melalui mistis dan supernatural adalah wajar, karena pada jaman dulu belum banyak –jika ingin dikatakan hampir tidak ada, orang yang berfikir secara logika jaman sekarang.

Fungsi mitos itu sendiri, dalam bukunya Dari Buku ke Buku, P. Swantoro mengungkap bahwa mitos berguna untuk melegitimasikan raja karena raja adalah penyangga mikrokosmos dan makrokosmos (16). Jika raja kehilangan eksistensi kekuatan supernaturalnya maka akan terjadi gonjang-ganjing di bumi (17). Hal ini mengindikasikan bahwa jika dalam setiap babad yang berguna melegitimasikan raja, maka akan timbul mitos atau “supernatural” dan bahkan superhuman yang semuanya berfungsi sama, melegitimasi raja. Dalam Serat Babad Pajajaran sendiri ditemukan beberapa mitos yang memang berguna untuk melegitimasi raja. Semisal dalam bagian pertama. Salah satu dari tiga keturunan Mundingsari adalah Retna Suwida yang nantinya akan menjadi Ratu Kidul. Dan yang satunya lagi Retna Kamisi adalah orang yang memiliki penyakit kulit dan dibuang oleh ayahnya ke Pulau Onrus dan itu akan menurunkan Kumpeni (sebutan untuk bangsa Belanda) (18).

Raja terakhir secara implisit dikatakan adalah saudara dari penguasa Laut Kidul dan juga Kumpeni. Sebuah legitimasi yang benar-benar dari awal dirancang untuk membenarkan kekuasaan raja, jika secara mitos itu tadi. Sehingga dapat dikatakan, Sultan Pajang adalah orang yang benar-benar terpilih.

Dalam bagian pertama Serat Babad Pajajaran diterangkan bahwa Ratna Suwida mencintai saudara laki-lakimya sekandung dan akhirnya diusir keluar istana (19). Menarik adalah setiap babad seringkali menyuguhkan cerita-cerita tentang cinta yang sedarah atau abnormal. Tinjauan ini memang menarik perhatian Hoesein dalam buku Tinjauan Kritis Sajarah Banten. Kajian ini menjadi menarik karena dalam kelanjutan pembahasan ialah mengenai didaktis ataupun makna babad itu sendiri. Dalam tulisannya Taufik Abdullah mengemukakan bahwa, keberadaan historiografi tradisi ataupun tradisi sejarah adalah “membuat masa lampau bermakna”, biarpun didalamnya terdapat banyak mitos yang tidak sesuai dengan realita saat ini. Istilah Taufik Abdullah dalam historiografi tradisi makna sejarah (disebutnya kewajaran sejarah) adalah hal yang mendasar dibanding fakta sejarah (disebutnya kepastian sejarah). Hal ini memang tak lepas dari salah satu pendapatnya mengenai historiografi tradisi itu sendiri.

"Bukan kebenaran historis yang menjadi tujuan utama, tetapi pedoman dan peneguhan nilai yang perlu didapatkan. Karena itu dalam historiografi tradisional terjalinlah dengan erat unsur-unsur sastra, sebagai karya imajinatif, dan mitologi, sebagai pandangan hidup yang dikisahkan, serta “sejarah”, sebagai uraian peristiwa pada masa lalu" (20).

Jadi dalam babad pun setidaknya Taufik Abdullah mengemukakan bahwa konsep intinya dari babad adalah mencerminkan keadaan sosial saat itu. Begitupula dalam Serat Babad Pajajaran. Pengkajian makna sejarah yang penting bukan sekadar “kepastian sejarah” melainkan juga “kewajaran sejarah”.

1. Hoesein Djajadiningrat, Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten. (Jakarta: Djambatan, 1983) hal. 338. Tertulis bahwa meskipun dalam permulaannya babad sedikit sekali manfaat yang bisa diambil, namun lain dengan sambungannya yang seringkali tersusun dan memiliki keterangan dan keterangannya itu bisalah diambil dan dimasukan menjadi sebuah fakta sejarah. Asalkan dalam pengambilannya secara hati-hati.
2. Dalam beberapa literatur sejarah, seringkali konsep yang ditemukan adalah historiografi tradisional dan historiografi modern.
3. Dalam beberapa literatur asing, babad memang dikategorikan sebagai dongeng. Seperti dalam Historical Dictionary of Indonesia, Robert Cribb, hal. 33. Jika diterjemahkan secara bebas akan tertulis bahwa babad adalah urutan kronik dan menceritakan bagaimana keagungan sebuah kerajaan bisa diperoleh.
4. P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu. (Jakarta: KPG, 2002) hal. 146.
5. Hoesein Djajadiningrat, “Tradisi Lokal dan Studi Sejarah Indnesia” dalam Soedjatmoko et al (eds), Historiografi Indonesia Sebuah Pengantar, (Jakarta: Gramedia, 1995) hal. 58
6. Sartono Kartodirjo, “Pengantar” dalam Anthony Reid & David Marr (eds), Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka. Indonesia dan Masa Lalunya (Jakarta: Grafitti. 1983) hal. iii-xiii
7. Bandingkan dengan tulisan Hoesein Djajadinigrat, Tinjauan Kritis Sajarah Banten, hal. 320. Hoesein mengkategorikan bahwa keberadaan bidadari atau widyadari dipinjam dari cerita-cerita hindu.
8. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Serat Babad Pajajaran, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985) hal. 34
9. Op. Cit. hal. 320
10. P. Swantoro, Op. Cit. hal. 140
11. Bandingkan dengan tulisan Ann Kumar mengenai konsep pan-Java dalam buku Anthony Reid, Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka. Indonesia dan Masa Lalunya (Jakarta: Grafitti. 1983) hal. 90-92.
12. C.C. Berg, “Gambaran Jawa Pada Masa Lalu” dalam Soedjatmoko et al (eds), Historiografi Indonesia Sebuah Pengantar, (Jakarta: Gramedia, 1995) hal. 70
13. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op. Cit. hal. 10
14. Misal kita membandingkan dengan beberapa babad yang secara spesifik menjelaskan urutan peristiwa pada saat itu. Misalkan Negarakertagama atau Pararaton
15. Sartono Kartodirjo, Op. Cit. hal. v-vi
16. P. Swantoro, Op. Cit. hal. 144
17. Misal kekuasaan Amangkurat I yang katanya “tidak direstui” dan mengakibatkan banyak tragedi semisal terjadinya Gunung Merapi meletus, bencana kelaparan.
18. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op. Cit. hal. 7
19. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op. Cit. hal. 7
20. Taufik Abdullah, “Pendahuluan: Sejarah dan Historiografi” dalam Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomiharjo (eds), Ilmu Sejarah dan Historiografi Arah dan Perspektif. (Jakarta: Gramedia, 1985) hal. xxi

Twitter